
Braindevs Dukung Harmonisasi Penerapan SOP dan Penguatan Proses Bisnis Kortastipidkor Polri

Transformasi digital membutuhkan tata kelola yang mampu menghubungkan strategi, proses bisnis, data, aplikasi, teknologi, risiko, serta kebutuhan organisasi secara menyeluruh. Tanpa kerangka arsitektur yang terarah, pengembangan sistem dan layanan digital berisiko berjalan secara terpisah. Karena itu, Enterprise Architecture menjadi salah satu fondasi penting untuk memastikan setiap komponen organisasi dapat berkembang dalam arah yang sama.
Kegiatan ini dihadiri oleh Brigadir Jenderal Polisi Boro Windu Danandito, S.I.K., M.A.P. selaku Wakil Kepala Kortastipidkor Polri; Dr. Mulya Hakim Solichin, S.I.K., M.H. selaku Penyidik Utama I; Dr. Arief Adiharsa, S.I.K., M.T.C.P. selaku Penyidik Utama II; Ahmad Sulaiman, S.I.K., M.H. selaku Wakil Direktur Direktorat P2A; Ahmad Yusuf Afandi, S.I.K., M.M. selaku Kepala Bagian Operasional; serta Kombes Pol. Subiantoro, S.H., S.I.K., M.Si. selaku Astamaops Polri. Selain itu, kegiatan turut diikuti oleh perwakilan Direktorat dan Bagian Kortastipidkor Polri, perwakilan Polda Kewilayahan, Tim Legal Drafter RBP Asia, serta Tim Braindevs yang terdiri atas Adi Zidan, S.Kom., Andi Rahmawan, S.Kom., dan Naufal Allam Bahaudin.
Dalam konteks tersebut, Kortastipidkor Polri bersama Braindevs dan pihak terkait melaksanakan kegiatan Harmonisasi, Konsinyasi Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Launching Arsitektur Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Kegiatan ini menjadi forum untuk menyelaraskan penerapan SOP sekaligus memperkuat kesiapan Arsitektur SPBE. Kegiatan Harmonisasi, Konsinyasi Penerapan SOP dan Launching Arsitektur SPBE dilaksanakan pada Kamis–Jumat, 13–14 Agustus 2026, Tangerang Selatan.
Fokus Pembahasan Harmonisasi, Konsinyasi Penerapan SOP dan Launching Arsitektur SPBE
Pembahasan tersebut sejalan dengan pendekatan Integrated Multidimensional Enterprise Architecture (idEA) Framework dari Braindevs. Framework ini menjadi fondasi dalam pengembangan Enterprise Architecture yang terstruktur, terintegrasi, dan berkelanjutan dengan menghubungkan berbagai dimensi organisasi, mulai dari strategi, standar, regulasi, risiko, indikator kinerja, data, hingga aplikasi.
Pendekatan idEA tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga mendukung organisasi dalam menyelaraskan kebutuhan bisnis, tata kelola, regulasi, serta pengembangan sistem dan layanan digital. Dengan pendekatan multidimensi, pengembangan arsitektur dapat dilakukan secara lebih sistematis sekaligus mendukung percepatan transformasi digital organisasi.
Enam Pendekatan idEA Framework dalam Pengembangan Enterprise Architecture
- Iterative Knowledge Transfer: Mendorong proses transfer pengetahuan, kompetensi, dan manajemen perubahan secara bertahap serta berkelanjutan sehingga pemahaman mengenai Enterprise Architecture dapat berkembang di dalam organisasi.
- Integrated Standard Compliance: Memastikan pengembangan arsitektur memperhatikan dan mengintegrasikan berbagai standar serta regulasi yang relevan sehingga implementasinya tetap selaras dengan kebutuhan kepatuhan organisasi.
- Simplified Systematics Method: Menggunakan metode pengembangan Enterprise Architecture yang sistematis dan komprehensif, didukung oleh pengelolaan proyek yang terstandar dan terkontrol agar proses pengembangan dapat dilaksanakan secara lebih terarah.
- Multidimensional Architectures: Mengintegrasikan arsitektur bisnis dengan berbagai dimensi organisasi, termasuk rencana strategis, standar, regulasi, risiko, indikator kinerja utama (KPI), data, dan aplikasi sehingga pengembangan arsitektur tidak berjalan secara terpisah.
- Comprehensive Roadmap & Governance: Mengembangkan roadmap, tata kelola, dan mekanisme pemantauan kegiatan organisasi secara terpadu agar implementasi arsitektur dapat diarahkan, dikendalikan, dan dievaluasi secara berkelanjutan.
- Multimodal Digital Transformation Platform: Mendukung pemanfaatan platform multimodal yang terintegrasi dan efisien untuk menunjang proses transformasi digital organisasi serta menghubungkan berbagai kebutuhan dalam pengembangan dan pengelolaan arsitektur.
Kolaborasi lintas fungsi menjadi bagian penting dalam penerapan pendekatan tersebut. Keterlibatan berbagai pihak membantu memastikan strategi, proses bisnis, regulasi, risiko, data, aplikasi, dan kebutuhan teknologi dapat dipertimbangkan dalam satu kerangka arsitektur yang terpadu. Dengan demikian, Arsitektur SPBE dapat dikembangkan tidak hanya sebagai dokumentasi arsitektur, tetapi juga sebagai landasan dalam mendukung tata kelola dan transformasi digital organisasi secara berkelanjutan.
Wujudkan tata kelola organisasi yang lebih terstruktur, adaptif, dan berkelanjutan bersama Integrated Multidimensional Enterprise Architecture (idEA) Framework. Konsultasikan kebutuhan pengembangan Enterprise Architecture dan Arsitektur SPBE organisasi Anda bersama tim Technology Advisors Braindevs sekarang!


